Alkisah, ada seorang pengemis yang galau, kelaparan. Sejak pagi
hingga jelang siang mengemis belum dapat uang, walau sekedar pembeli
makanan.
Pergilah pengemis itu meminta-minta di depan sebuah kantor perusahaan. Di situ, dia berharap dapat uang minimal Rp 10 ribu guna membeli makanan. Tahu-tahu datang seorang karyawan perusahaan itu. Karyawan ini menginfaq-kan uang senilai Rp 50 ribu. Senang bukan si pengemis menerimanya.
Tapi, karyawan tersebut sedang galau juga. Dia punya hajatan acara anaknya dengan anggaran sebesar Rp 100 juta. Uangnya baru Rp 75 juta, kurang Rp 25 juta. Karena kondisi mepet, dia pun tidak tenang, mondar-mandir di kantor.
Melihat gelagat aneh anak buahnya, direktur perusahaan tersebut memanggilnya karyawan itu. Diseledikilah permasalahan yang menimpanya. Karyawan ini menceritakan kegalauannya.
Mengetahui itu, dengan enteng sang direktur memberikan segepok uang sesuai kebutuhan karyawannya sebagai pinjaman. Mendapatkan uang segar, karyawan itu senang bukan main.
Tapi, kali ini giliran sang direktur yang galau. Saat itu dia hendak membeli saham sebuah perusahaan seharga Rp 1 triliun. Dia baru punya uang Rp 500 miliar, masih kurang kurang Rp 500 miliar lagi. Pusinglah dia. Hingga kisah ini berakhir, sang direktur pun mendapatkan uang tersebut.
Hikmah kisah ini, siapa sebenarnya yang paling bahagia dari ketiga orang tersebut? Yang paling bahagia, kata Akip di depan para jamaah, jelas si pengemis. Karena yang dibutuhkan saat itu hanya Rp 10 ribu, tapi dia dapat Rp 50 ribu. Berbeda dengan karyawan dan direkturnya, mereka mendapatkan hanya sesuai kebutuhan.
Seperti Air Laut
Hikmah lainnya dari kisah di atas, bahwa uang bukanlah standar ukuran kebahagiaan seseorang. Kalau seseorang tidak mampu mengatur nafsu keuangannya dengan baik, itu ibarat meminum air laut. Makin diminum makin haus.
"Inilah salah satu subtansi puasa, bagaimana seseorang mampu mengendalikan hawa nafsunya. Sehingga orang beriman akan mampu mengendalikan nafsu, tidak mungkin dia stres, tidak mungkin dia galau.
Kehancuran negeri ini, menurutnya, karena para pemimpin tidak mampu mengendalikan nafsunya. Kalau saja ibadah puasa dilaksanakan dengan benar oleh para pemimpin, niscaya akan sejahtera Indonesia.
“Tapi kita nggak usah bermimpi jauh-jauh. Sudahkah kita instropeksi diri. Jangan-jangan kita hanya terjebak dengan ritual puasa tanpa memahami subtansinya.
Sumber: Akip, da'i
Pergilah pengemis itu meminta-minta di depan sebuah kantor perusahaan. Di situ, dia berharap dapat uang minimal Rp 10 ribu guna membeli makanan. Tahu-tahu datang seorang karyawan perusahaan itu. Karyawan ini menginfaq-kan uang senilai Rp 50 ribu. Senang bukan si pengemis menerimanya.
Tapi, karyawan tersebut sedang galau juga. Dia punya hajatan acara anaknya dengan anggaran sebesar Rp 100 juta. Uangnya baru Rp 75 juta, kurang Rp 25 juta. Karena kondisi mepet, dia pun tidak tenang, mondar-mandir di kantor.
Melihat gelagat aneh anak buahnya, direktur perusahaan tersebut memanggilnya karyawan itu. Diseledikilah permasalahan yang menimpanya. Karyawan ini menceritakan kegalauannya.
Mengetahui itu, dengan enteng sang direktur memberikan segepok uang sesuai kebutuhan karyawannya sebagai pinjaman. Mendapatkan uang segar, karyawan itu senang bukan main.
Tapi, kali ini giliran sang direktur yang galau. Saat itu dia hendak membeli saham sebuah perusahaan seharga Rp 1 triliun. Dia baru punya uang Rp 500 miliar, masih kurang kurang Rp 500 miliar lagi. Pusinglah dia. Hingga kisah ini berakhir, sang direktur pun mendapatkan uang tersebut.
Hikmah kisah ini, siapa sebenarnya yang paling bahagia dari ketiga orang tersebut? Yang paling bahagia, kata Akip di depan para jamaah, jelas si pengemis. Karena yang dibutuhkan saat itu hanya Rp 10 ribu, tapi dia dapat Rp 50 ribu. Berbeda dengan karyawan dan direkturnya, mereka mendapatkan hanya sesuai kebutuhan.
Seperti Air Laut
Hikmah lainnya dari kisah di atas, bahwa uang bukanlah standar ukuran kebahagiaan seseorang. Kalau seseorang tidak mampu mengatur nafsu keuangannya dengan baik, itu ibarat meminum air laut. Makin diminum makin haus.
"Inilah salah satu subtansi puasa, bagaimana seseorang mampu mengendalikan hawa nafsunya. Sehingga orang beriman akan mampu mengendalikan nafsu, tidak mungkin dia stres, tidak mungkin dia galau.
Kehancuran negeri ini, menurutnya, karena para pemimpin tidak mampu mengendalikan nafsunya. Kalau saja ibadah puasa dilaksanakan dengan benar oleh para pemimpin, niscaya akan sejahtera Indonesia.
“Tapi kita nggak usah bermimpi jauh-jauh. Sudahkah kita instropeksi diri. Jangan-jangan kita hanya terjebak dengan ritual puasa tanpa memahami subtansinya.
Sumber: Akip, da'i
Post a Comment